oleh

Biotech Bersiap Hadapi Virus Covid-19 Varian Baru

Jakarta, (pr)

Kasus COVID-19 di Singapura meningkat hampir dua kali lipat dari minggu ke minggu, sehingga mendorong Kementerian Kesehatan negeri Singa itu mengambil langkah-langkah untuk memastikan kapasitas yang memadai di rumah sakit umum. Indonesia sepertinya harus kembali waspada.

Perkiraan jumlah infeksi COVID-19 pada minggu tanggal 5 hingga 11 Mei naik menjadi 25.900 yang merupakan peningkatan sebesar 90 persen dibandingkan dengan 13.700 kasus pada minggu sebelumnya.

Menurut founder Biotech Wibisono mengatakan kita harus waspada akan sebaran virus baru ini, maka dari itu Biotech yang sudah berpengalaman mengobati virus covid-19 pada tahun 2019-2021 yang lalu bersiap untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan virus baru ini.

“Jenis virus COVID-19 KP.1 dan KP.2 saat ini mencakup lebih dari dua pertiga kasus di Singapura, kedua strain tersebut termasuk dalam kelompok varian COVID-19 yang oleh para ilmuwan dijuluki “FLiRT”, sesuai dengan nama teknis mutasinya,” ujar Wibisono yang juga pengamat militer.

Lanjutnya, mereka semua adalah keturunan varian JN.1, yang menyebar dengan cepat ke seluruh dunia beberapa bulan lalu.

Awal bulan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan KP.2 sebagai varian dalam pemantauan.

Virus ini juga merupakan strain yang dominan di Amerika Serikat dan telah terdeteksi di negara-negara seperti Tiongkok, Thailand, India, Australia, dan Inggris.

Cabang dari strain Omicron, KP.2 pertama kali terdeteksi di India pada awal Januari. Penyakit ini telah menyebar secara internasional dan menjadi jenis virus yang dominan di Amerika Serikat, sebuah pengingat bahwa pandemi COVID-19 masih ada, empat tahun sejak pertama kali diumumkan.

Sementara di China juga terjadi lonjakan kasus COVID-19. Namun varian baru COVID-19 yang menyebar secara global kemungkinan besar tidak akan memicu gelombang infeksi baru di China karena varian ini hanya menyumbang sebagian kecil dari kasus lokal, yang sudah berada pada tingkat rendah, kata otoritas kesehatan negara tersebut.

“Proporsi kasus KP.2 dalam laporan mingguan lokal berkisar antara 0,05 persen hingga 0,3 persen, yang merupakan tingkat yang sangat rendah,” kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC China) dalam sebuah artikel yang diterbitkan di situs resminya.

Ditambah dengan penurunan kasus JN.1 di China, para ahli yakin kemungkinan KP.2 menjadi jenis COVID-19 yang dominan secara lokal atau memicu gelombang infeksi baru adalah kecil, catat CDC Tiongkok. JN.1 adalah strain yang dominan saat ini di negara ini.

CDC China juga menunjukkan bahwa belum ada laporan apa pun yang menunjukkan perubahan signifikan dalam “kemampuan patogenisitas atau penghindaran kekebalan” KP.2 dibandingkan dengan JN.1.

Sejak 3 Mei, KP.2 telah dimasukkan dalam daftar “varian COVID-19 dalam pemantauan” Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut situs WHO, istilah ini digunakan untuk memberi sinyal kepada otoritas kesehatan masyarakat bahwa varian COVID-19 mungkin memerlukan perhatian dan pemantauan yang diprioritaskan.

Di Asia, Thailand telah melaporkan beberapa kasus KP.2, dan outlet berita lokal Bangkok Post menyatakan pekan lalu bahwa sembilan infeksi telah terdeteksi. Seperti JN.1 dan varian Omicron sebelumnya, mungkin diperlukan waktu lima hari atau lebih sebelum seseorang mulai menunjukkan gejala setelah terpapar, meskipun gejala mungkin muncul lebih cepat, menurut Andrew Pekosz, ahli virologi di Universitas Johns Hopkins. (PR)

Komentar