oleh

Kasus Bantuan Sembako Rakyat Miskin Tak Sesuai, Dinsos Inhil Dipertanyakan

Tembilahan, (Puterariau.com))

Pasca ekspose bantuan sembako buat rakyat miskin dari Pemerintah Pusat di Kabupaten Indragiri Hilir, khususnya di Kecamatan Keritang yang menuai polemik beberapa waktu lalu menyisakan tanda tanya. Sejauhmana pengusutan penyalahgunaan bantuan tersebut? Kenapa Dinas terkait bungkam? Apakah pejabat di daerah ini membiarkan rayap-rayap berwajah manusia terus berkeliaran?

Dikonfirmasi ulang, Kadis Sosial Inhil, Syaifuddin pada Minggu (28/06) tak memberikan jawaban apapun. Padahal, institusi yang dipimpinnya itulah yang menjadi sorotan saat ini. Mulai dari bantuan rakyat miskin, bantuan terdampak corona dan lainnya yang kerapkali menuai permasalahan.

Sebagaimana diketahuu, dari pantauan langsung pada beberapa bulan lalu, misalnya Kamis, 12 Maret 2020 di Desa Kotabaru Seberida Kecamatan Keritang. Memang, warga sangat terbantu atas program Sembako yang ditaja oleh Dinas Sosial ini yang bekerja sama dengan agen BRI Link dan pengusaha. Hanya saja, dugaan kongkalikong seputar anggaran yang diberikan pada masyarakat sangat mencolok. E warung diduga mengambil selisih harga yang cukup tinggi dan diduga demi keuntungan semata.

Dari penelusuran lapangan kala itu, setiap warga penerima memperoleh beras sebanyak 5 Kg, telur 1 papan, jeruk (buah) 1 Kg, dan sayuran (toge) sekitar 1 Kg. Ketika dikalkulasikan dengan barang yang diterima tidak sinkron dengan nominal yang seharusnya diterima.

Beras yang diterima dengan kualitas tersebut dinilai Rp. 50.000, telur Rp. 40.000, jeruk Rp. 10.000, dan toge Rp. 10.000. Total anggaran sebesar Rp. 110.000. Sementara dana yang digadang-gadangkan saldonya sebesar Rp. 150.000. Kemana sisanya yang sekitar Rp. 40.000 ? Memang nilai itu tak seberapa, tapi jika dikalikan jumlah masyarakat penerima, tentu menjadi hitungan yang lain yang pada hakikatnya untuk mencari keuntungan semata.

Namun anehnya lagi saat itu, laporan dari warga Kecamatan lain pun berbeda dari segi barang yang diterima. Di Desa Sanglar Kecamatan Retej saja saja misalnya, warga mendapat jatah beras sebesar 10 Kg plus komponen lainnya.

Ketika dikonfirmasikan pada salah seorang staf BRI Kotabaru Seberida yang membawahi agen BRI Link, Adi mengakui bahwa pihaknya hanya membuat MoU. BRI katanya tidak mengetahui lagi seputar mekanisme pemberian paket sembako tersebut. Cukup aneh adalah program tersebut melalui kerja sama dengan BRI. Jika pihak BRI tak mengetahui, terlihat keanehan dan seakan hanya mendapat momen kerja sama oleh Pemerintah Kabupaten Inhil.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Indragiri Hilir, Syaifuddin saat itu ketika dikonfirmasi mengarahkan pada staf Dinas Sosial yang bernama Deri. “Maaf saya sedang rapat, hubungi Deri saja,” arahnya.

Deri yang berhasil dihubungi mengatakan bahwa untuk bulan Maret hingga Agustus, bantuan tersebut naik. “Saldonya Rp. 200.000 per bulan,” sebutnya via WA.

Ia pun merasa heran ada desa yang diduga memberikan komponen seperti tersebut diatas. “Kemarin kami monev ke Keritang, itu beberapa agen yang kami temui komponennya lengkap. Bahkan buahnya ada yang berbeda di beberapa agen di Keritang,” ungkapnya.

Sejauh ini, katanya, belum ada keluhan dari warga berkenaan dengan komponen yang diberikan agen. Namun ketika disampaikan kenapa warga tak mengeluhkan hal ini, karena ketidaktahuan atas anggaran. Jika diberikan hanya beras sekalipun, mereka tidak akan komplain karena tidak pernah mengkalkulasinya.

Di akhir konfirmasi, Deri berjanji akan mencari tahu atas kasus ini. “Iya Pak, terima kasih infonya. Saya coba cari tau dulu ke agen-agen di Keritang,” ungkapnya.

Dikonfirmasi lagi pada Minggu (28/06), Staf Dinas Sosial Kabupaten Inhil itu diam tanpa ada balasan melalui ponselnya. Padahal PR mempertanyakan sejauhmana tindak lanjut pengusutan kasus bantuan terdahulu. Apakah hilang begitu saja, atau sudah dieksekusi pihak Dinsos ?

Di lain sisi, Ketua LSM Anugerah Melayu Riau Kecamatan Keritang, Syahril Saleh mengatakan bahwa jika ada permainan dalam penyaluran komponen bantuan sembako Dinas Sosial ini harus ditindak. “Apalagi kemarin, kita diberitahu bahwa harga beras yang diterima seharga Rp. 13.500. Sementara beras di Keritang yang paling bagus hanya Rp. 12.000. Jika beras yang diterima warga paling seharga Rp. 10.000,” ujarnya.

“Kita akan cek lagi berapa harga yang dilaporkan ke Pemerintah,” katanya saat itu. (pr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed