oleh

Petani Kelapa ‘Sedang Sakit’, Pemkab Inhil Diharapkan Beri Solusi

Tembilahan, (PR)

Petani kelapa di Inhil kian terperosok ke jurang krisis ekonomi, dimana harga komoditi kelapa yang semula diharapkan naik malah kembali turun perlahan. Belum ada kepastian terhadap nasib petani kelapa di Inhil meskipun hal ini sudah terjadi berulang-ulang.

Penasehat Serikat Petani Indragiri, Fadila Saputra cukup menyayangkan kondisi petani kelapa yang sulit saat ini. Belum adanya perbaikan harga yang baik pada petani menciptakan sebuah kontroversi terkait wacana Pemerintah Kabupaten Inhil untuk menciptakan Inhil sebagai negeri lumbung kelapa.

“Ketika petani kelapa sudah maksimal dalam memelihara kelapa mereka, justeru harganya malah jatuh. Sehingga ekonomi petani kian morat-marit,” ungkap Fadil.

Memang, Pemerintah selalu melakukan pembahasan mengenai anjloknya harga kelapa saat ini, namun sampai hari ini tak kunjung ada realisasi perbaikan. “Rapat selalu diadakan, namun tak ada hasilnya,” sebutnya.

Ia menyindir kepemimpinan Bupati Inhil HM Wardan yang cenderung mementingkan pencitraan politik semata namun tak pernah ada implementasi lapangan. “Buat apa Pemerintah getol menciptakan Inhil sebagai lumbung kelapa, namun petaninya malah dibiarkan terlantar dan terkapar,” kesal juru bicara Kekerabatan Kerajaan Indragiri ini pada Putera Riau.

Ia berharap Pemkab Inhil mampu mencarikan solusi agar permasalahan petani dapat teratasi. “Mudah-mudahan, kepiawaian Bupati kedepan dapat mensiasati problema ini. Karena kita sangat mendukung program Pemkab Inhil dari awal, namun kita tetap beri masukan dan kritikan membangun pada beliau,” sebutnya.

Pihaknya tak menampik bahwa Bupati Inhil sukses dalam membuat Inhil kembali menjadi lumbung kelapa di Riau. “Hal ini sangat diapresiasi, namun masih ada catatan yang harus diperbaiki dan ditingkatkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Jailani HB, tokoh pemuda Tanjung Lajau Tanjung Bidadari Pulau Air Tawar Kecamatan Kuindra Inhil turut menyampaikan kekecewaannya.

Dikatakannya bahwa harga kelapa turun naik. “Pernah naik Rp.1.200 dalam waktu 2 minggu (setengah bulan), lalu Minggu ke-3 hingga hari ini, saat ini dan detik ini jatuh lagi berangsur dari Rp.800 dan menuju Rp.650,” ujarnya.

Dari harga yang tidak stabil itu membuat para petani lesu dan berefek pasar dan warung-warung menjadi sepi. “Petani harus menjual dengan dalih jika tak dijual maka tidak makan,” katanya.

“Semangat para petani dengan penuh harapan dan cita-cita indonesia sejahtera baik dari atas hingga para petani,” pungkas Jailani.

Di lain sisi, Eka Putra SP MSi selaku praktisi dunia usaha Propinsi Riau mengatakan bahwa perlunya usaha konkrit untuk kembali meningkatkan gairah petani kelapa. Salah satunya antara lain mengembangkan secara optimal hasil produk turunan olahan kelapa yang berbasis kerakyatan.

Disamping itu, perlunya menggiatkan usaha perkoperasian yang didirikan ‘Founding Father’ kita dahulu dalam melindungi petani. Dimana dengan penentuan standar harga untuk tidak memberikan monopoli harga pada perusahaan penampung kelapa. (ridho)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed